We Serve You Beyond

MIOPIA (RABUN JAUH)

Dr. Katharina Willyasti, Sp.M., M.Kes

Status refraksi mata dipengaruhi oleh panjang aksial bola mata dan kelengkungan kornea dan lensa. Panjang aksial bola mata mengalami perubahan dari 16,8 mm saat lahir dan mencapai 23,6 mm saat dewasa. Untuk mengkompensasi peningkatan panjang aksial bola mata maka kelengkungan kornea dan lensa akan berkurang menjadi lebih mendatar. Kekuatan refraksi lensa dan kornea akan berkurang dari 51,2D dan 34,4D menjadi 43,5D dan 18,8 D yang akan mengkompensasi panjang aksial bola mata sehingga mata menjadi emetropia (mata normal). Miopia dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

  • Fisiologis
    Pada mata ini semua komponen refraksi dalam batas normal dan tidak didapatkan kelainan pada retina. Derajat miopia biasanya ringan. Miopia ini biasanya timbul pada usia anak atau remaja, progresif dalam beberapa tahun kemudian menjadi stabil.
  • Intermediate
    Bentuk miopia ini hampir sama dengan bentuk fisiologis, namun timbulnya lebih awal dengan derajat miopia yang lebih tinggi. Pada mata ini biasanya panjang aksial bola mata lebih panjang.
  • Patologis
    Merupakan miopia dengan kacamata minus > 6D. Timbul pada usia anak dan progresif. Terdapat peningkatan panjang aksial bola mata dan perubahab retina yang progresif. Terdapat peningkatan resiko kerusakan makula atau pelepasan retina yang dapat menurunkan tajam penglihatan.
  • Rata-rata progresivitas mata miopia fisiologis atau intermediate pada anak -0.5D per tahun. Progresivitas lebih sering terjadi pada miopia dengan kelainan retina, tekanan intraokular >16 mmHg, miopia lebih dari 3D saat usia 11 th. Faktor yang mempengaruhi progresivitas miopia adalah membaca dekat dan akomodasi.

    Faktor genetik

    Faktor genetik pada miopia merupakan hal yang kompleks. Miopia dapat diturunkan secara dominan, resesif, dan sporadik. Anak dengan kedua orang tua menderita miopia akan lebih beresiko menderita miopia dibanding anak dengan salah satu orang tua menderita miopia atau kedua orang tua tanpa miopia. Pada penelitian anak usia 6-12 th didapatkan angka kejadian miopia pada anak dengan kedua orang tua miopia sebesar 12,2%. Sedangkan angka kejadian miopia pada anak dengan salah satu orang tua miopia sebesar 8,2%, dan pada anak dengan kedua orang tua normal sebesar 2,7%.

    Miopia pada anak

    Pada masa pertumbuhan pada anak sering ditemukan hipermetropia (rabun dekat), kemudian setelah usia 7 tahun terjadi perubahan kearah miopia, yang disebabkan olah penambahan panjang aksial bola mata. Angka kejadian miopia pada anak usia 6 tahun sekitar 2% dan meningkat menjadi 15% pada usia 15 tahun.

    Miopia pada anak harus segera dideteksi dan diberikan koreksi kacamata atau lensa kontak yang sesuai. Pada keadaan miopia yang tidak dikoreksi dapat menimbulkan ambliopia atau mata malas. Ambliopia terjadi karena bayangan buram yang jatuh pada retina mengganggu perkembangan visual pada anak dan dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan menetap. Penurunan tajam penglihatan terjadi akibat dari stimulus visual abnormal saat perkembangan visual yang akan mempengaruhi perkembangan korteks visual pada otak.

    Penderita miopia sebaiknya memeriksakan diri secara rutin untuk mendeteksi perubahan refraksi dan deteksi dini adanya gangguan pada retina akibat miopia. Komplikasi retina yang dapat timbul yaitu ablasio retina atau lepasnya saraf retina, yang dapat menimbulkan kebutaan. Hampir 40% pada ablasio retina terjadi pada mata miopia. Untuk mencegah ablasio retina, dapat dilakukan laser retina bila didapatkan degenerasi perifer pada mata miopia.

    March 12, 2008

    kembali..